MAKASSAR, Liputanpost.com – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bukan sekadar tradisi seremonial tahunan, melainkan momentum krusial untuk melakukan inkubasi nilai-nilai etik dalam memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Hal tersebut ditegaskan oleh Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof. Dr. H. Salim Basalamah, SE., M.Si. saat dihubungi melalui Whatsapp pada hari Kamis (27/08/2026)

Dalam pandangannya, Prof. Salim Basalamah menekankan bahwa krisis ekonomi dan dinamika pasar global yang bergejolak saat ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan teori-teori makroekonomi konvensional.

Indonesia membutuhkan revitalisasi karakter pelaku ekonomi, sebuah pendekatan kepemimpinan dan tata kelola yang meneladani sifat-sifat utama Rasulullah SAW, ungkapnya.

“Momentum Maulid Nabi menghadirkan cetak biru (blueprint) moral yang sangat relevan bagi transformasi ekonomi Indonesia. Karakter Siddiq (jujur), Amanah (terpercaya), Tabligh (transparan), dan Fathanah (cerdas/inovatif) adalah pilar-pilar utama yang jika diintegrasikan ke dalam ekosistem bisnis dan kebijakan publik, akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan dan inklusif,” ujarnya.

Empat Pilar Kenabian untuk Perekonomian Nasional

Guru Besar FEB UMI itu merinci bagaimana transformasi nilai-nilai kenabian tersebut mampu mendorong perubahan nyata pada lanskap ekonomi Indonesia:

• Integritas dan Kepercayaan Publik (Siddiq & Amanah): Kepercayaan (trust) adalah mata uang tertinggi dalam sistem ekonomi modern. Penerapan tata kelola yang jujur dan dapat dipercaya akan menekan biaya transaksi (transaction costs), memberantas praktik koruptif, serta meningkatkan daya tarik investasi domestik maupun asing.

• Transparansi Akuntabilitas (Tabligh): Regulasi dan tata kelola usaha yang terbuka menciptakan keterbukaan informasi pasar. Hal ini meminimalkan asimetri informasi sehingga persaingan bisnis menjadi sehat dan efisien.

• Kecerdasan Strategis dan Inovasi (Fathanah): Dalam menghadapi era digitalisasi dan ekonomi hijau, pelaku usaha serta regulator dituntut cerdas memanfaatkan peluang. Fathanah mengajarkan adaptive leadership—kemampuan berinovasi tanpa mengesampingkan asas keadilan sosial.

Ekonomi Kerakyatan dan Distribusi Kesejahteraan

Lebih jauh, Alumni 1985 Prodi Manajemen FEB UMI ini menggarisbawahi pentingnya meneladani kepedulian sosial Rasulullah SAW melalui penguatan ekonomi kerakyatan.

Peringatan Maulid Nabi harus menjadi pengingat untuk memperkecil jurang ketimpangan sosial melalui optimalisasi instrumen ekonomi syariah, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), serta pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), tegasnya.

“Rasulullah SAW adalah seorang pengusaha sukses yang membangun sistem perdagangan berbasis keadilan dan pemerataan. Perekonomian Indonesia akan tangguh dari krisis manakala fondasi utamanya yaitu UMKM dan kesejahteraan masyarakat kelas bawah diperkuat dengan prinsip saling membantu (ta’awun),” tambahnya.

Mengakhiri pandangannya, Prof. Salim Basalamah mengajak seluruh elemen bangsa mulai dari pemerintah, akademisi, hingga pelaku usaha untuk menjadikan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai titik balik lahirnya etos kerja baru.

“Perekonomian nasional yang berdaya saing tinggi hanya dapat terwujud jika dibangun di atas asas moralitas yang kokoh dan keadilan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia”, pungkasnya. (Jahja)